Lewati ke konten
27 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Buku

TAPI

Kalau kita sudah menemukan care, jangan buru-buru merasa selesai. Sebab care sendiri dapat menjadi istilah yang terlalu nyaman.

Ada sebuah cerita yang cukup terkenal dalam dunia mediasi. Dua anak bertengkar karena memperebutkan satu buah jeruk. Keduanya sama-sama ingin mendapatkan jeruk itu, dan tentu saja masing-masing merasa paling berhak. Orang dewasa yang melihat pertengkaran itu bisa saja membelah jeruk menjadi dua, satu untuk masing-masing anak.

Adil, selesai.

Tetapi ternyata anak pertama membutuhkan daging buahnya untuk membuat jus, sedangkan anak kedua hanya membutuhkan kulitnya untuk membuat kue. Kalau sejak awal mereka ditanya, “Kamu sebenarnya membutuhkan jeruk itu untuk apa?”, pertengkaran yang tampaknya memerlukan pembagian ternyata tidak memerlukan pembagian sama sekali.

Cerita ini dikenal luas sebagai “The Orange Story”, sebuah kisah mediasi yang dipublikasikan Lee Jay Berman pada 1996.

Saya teringat cerita itu ketika membaca tulisan Wahyu Heriyadi berjudul Rumah Koclak, Care, dan Waktu yang Tidak Mau Disiplin. Bukan karena saya sedang menganggap tulisan-tulisan kami sebagai dua anak kecil yang berebut jeruk. Walaupun, kalau mau jujur, kemungkinan itu tidak sepenuhnya salah. Arip membawa sandal untuk menendang teori. Saya membawa senter untuk menerangi teori. Lalu Wahyu datang membawa chrononormativity, care, counter-temporality, dan sejumlah istilah lain yang membuat jeruk tadi mendadak terasa seperti bukan jeruk lagi.

Saya menyukai tulisannya. Bahkan mungkin lebih tepat jika saya mengatakan: saya senang diganggu lagi. Setelah Arip mengingatkan saya agar tidak buru-buru memasang papan “METAMODERNISME” di depan Rumah Koclak, Wahyu datang membawa pertanyaan yang lain. Ia tidak bertanya apakah Rumah Koclak metamodern atau bukan. Ia bertanya tentang waktu: siapa yang menentukan kapan seseorang disebut penulis, kapan karya dianggap matang, kapan anak muda layak naik panggung, dan berapa cepat sastra harus menghasilkan sesuatu agar dianggap hidup.

Di situlah saya merasa tulisan Wahyu tidak sekadar melanjutkan percakapan. Ia menggeser meja. Kalau Arip sebelumnya berkata, “Jangan buru-buru memberi papan nama,” Wahyu seperti berkata, “Baik, tetapi coba lihat jam yang tergantung di dalam rumah itu.” Saya kira pergeseran ini penting. Sebab setelah kita curiga terhadap label, kita masih mungkin tidak sadar bahwa kita hidup di bawah jadwal-jadwal yang juga merupakan label, hanya saja bentuknya bukan papan nama, melainkan angka, umur, tenggat, target, produktivitas, dan pertanyaan yang kelihatannya sederhana: kapan?

Sang Suhu, Wahyu Heriyadi menyebut chrononormativity untuk membaca persoalan tersebut. Dalam esainya, ia memperlihatkan bagaimana sastra pun memiliki semacam jadwal kehidupan: mulai menulis pada usia tertentu, menerbitkan buku, produktif, mendapat pembaca, memperoleh pengakuan, masuk festival, lalu—kalau semuanya berjalan sesuai kalender—menjadi “sastrawan”. Yang menarik bagi saya, istilah itu kemudian bertemu dengan kalimat Arip tentang mangga muda: “Meminta penulis muda matang sebelum memperoleh ruang sama dengan memarahi mangga muda karena belum manis.”

Saya suka sekali bagian itu. Tetapi, seperti judul tulisan ini, saya ingin mengatakan: tapi.

Bukan “tapi” untuk membantah. Bukan pula “tapi” untuk mencari siapa yang menang dalam percakapan. “Tapi” di sini lebih seperti pintu kecil yang membuat kita melihat bahwa sebuah gagasan, betapapun baiknya, selalu mempunyai sisi lain. Jika care memberi seseorang waktu untuk tumbuh, saya ingin bertanya: siapa yang memberikan waktu itu? Jika Rumah Koclak memungkinkan seseorang untuk belum selesai, siapa yang mempunyai cukup waktu untuk menemani ketidakselesaian itu?

Pertanyaan ini sebenarnya sudah ada di dalam tulisan Wahyu sendiri. Ia dengan sangat baik mengingatkan bahwa care bukan sekadar keramahan. Care juga adalah pekerjaan. Menghubungi orang, menyediakan tempat, menyiapkan kursi, membuka pintu, menunggu, menyambut orang baru, mengatur jadwal, mengurus anak-anak yang tampil, menyediakan makanan, membersihkan setelah acara, menyimpan buku, mengingat orang-orang yang pernah datang, dan menjaga hubungan agar tidak putus—semuanya adalah kerja yang membuat sebuah rumah tetap menjadi rumah.

Nah, di sini saya ingin sedikit menggeser pertanyaannya lagi.

Care, tapi siapa yang merawat? Sebab merawat ternyata membutuhkan tenaga. Bahkan membutuhkan waktu. Dan waktu, seperti yang dikatakan Wahyu, tidak dibagikan secara merata. Ada orang yang punya waktu untuk mendampingi orang lain. Ada yang hampir seluruh waktunya habis untuk bertahan hidup. Ada yang bisa datang lebih awal untuk menata kursi. Ada yang baru bisa datang ketika acara hampir selesai. Ada yang punya pengalaman sehingga dapat memberi waktu kepada orang lain. Ada pula yang justru membutuhkan waktu dari orang lain karena dirinya sendiri belum memilikinya.

Karena itu saya kira care tidak hanya soal kelembutan. Ia juga menyentuh persoalan pembagian tenaga, kesempatan, dan kuasa. Wahyu sendiri mengatakan bahwa pertanyaan tentang siapa yang diberi kesempatan untuk tidak selesai sebenarnya berbicara tentang kekuasaan dan distribusi waktu. Ia bahkan menulis bahwa kemampuan untuk lambat adalah sebuah kemewahan.

Saya tertarik pada kata kemewahan itu. Sebab kita sering menganggap kelambatan sebagai pilihan pribadi. Padahal belum tentu. Ada orang yang lambat karena sedang belajar. Ada yang lambat karena tidak punya akses. Ada yang lambat karena harus mengerjakan pekerjaan lain. Ada pula yang dapat lambat karena ada orang lain yang bersedia menanggung sebagian beban hidupnya. Jadi ketika sebuah komunitas memberi seseorang waktu untuk tumbuh, yang sedang terjadi bukan sekadar kemurahan hati. Ada kerja sosial di belakangnya.

Sang Suhu membedakan rumah dari pabrik. Pabrik bertanya: berapa banyak, berapa cepat, berapa nilai. Rumah bertanya: sudah makan, mau duduk di mana, kapan datang lagi, kamu bawa siapa. Saya menyukai perbandingan ini karena ia membuat care terasa konkret, tidak melayang sebagai kata moral. Rumah memang mempunyai cara kerja yang berbeda dari pabrik.

Tapi rumah juga mempunyai pintu. Ia punya ruang dalam dan ruang luar. Ada orang yang tinggal di dalam. Ada orang yang datang sebagai tamu. Ada orang yang memegang kunci. Ada orang yang boleh membuka pintu kapan saja. Ada orang yang harus mengetuk terlebih dahulu. Ada orang yang bahkan mungkin tidak tahu bahwa di sana ada rumah.

Saya tidak sedang mengatakan Rumah Koclak seperti itu. Saya justru sedang bertanya lebih umum: kalau kita memakai metafora rumah, jangan-jangan kita terlalu cepat membayangkan rumah sebagai ruang yang otomatis ramah. Padahal rumah pun merupakan hasil dari hubungan, keputusan, kerja, dan kuasa. Siapa yang membuka pintu? Siapa yang menentukan kapan pintu dibuka? Siapa yang diundang? Siapa yang merasa cukup nyaman untuk datang tanpa diundang?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membatalkan gagasan care. Justru sebaliknya. Ia membuat care semakin serius.

Sebab kalau care hanya berarti “tempat yang baik untuk tumbuh”, kita mudah menjadikannya slogan. Dan saya curiga Wahyu sendiri tidak menginginkan itu. Ia justru sudah memperingatkan kita agar Rumah Koclak tidak buru-buru dijadikan model. Begitu sebuah praktik komunitas disebut “model”, proposal datang. Setelah proposal, indikator. Lalu target, output, jumlah peserta, jumlah kegiatan, jumlah unggahan, jumlah mitra, jumlah publikasi. Rumah perlahan berubah menjadi kantor.

Saya tertawa membaca bagian itu karena saya bisa membayangkan nasib Rumah Koclak setelah terlalu banyak dibicarakan oleh kita.

Toni membawa kursi. Wida membuka pintu. Anak-anak membawa puisi. Gusjur membawa misuh-misuh. Saya membawa metamodernisme. Arip membawa sandal. Wahyu membawa chrononormativity dan care.

Lalu seseorang datang membawa formulir evaluasi.

“Maaf, Rumah Koclak ini indikator keberhasilannya berapa?”

Semua orang diam.

Gusjur mungkin misuh.

Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Arip dengan sandalnya.

Dan Wahyu mungkin langsung berkata: “Asu.”

Rumah pun selamat.

Oh, ya, sebentar. Ada satu hal lagi yang sebenarnya ingin saya jelaskan, tetapi saya tahan sampai di sini karena rasanya ada yang tidak adil. Arip Senjaya saya panggil Kakanda di esai sebelumnya karena beberapa latar belakang. Ada sejarah perkenalan, jarak usia, dan pertimbangan lainnya. Tetapi mengapa Wahyu Heriyadi saya panggil Suhu? 

Saya memanggilnya Suhu karena memang ingin memanggilnya Suhu. Saya kira setelah ada yang bersusah payah mengikuti chrononormativity, care, distribusi waktu, dan segala macamnya, mereka berhak mendapatkan satu keputusan yang sama sekali tidak teoritis.

Wahyu adalah Suhu. Kenapa? Ya karena Suhu.

Ini bukan lelucon. Kita sedang menulis tentang sebuah rumah yang, menurut tulisan-tulisan sebelumnya, menarik justru karena ia tidak terlalu rapi. Ia tidak sepenuhnya festival profesional, tidak sepenuhnya ruang akademik, tidak sepenuhnya komunitas amatir, tidak sepenuhnya panggung seni, dan tidak sepenuhnya rumah pribadi. Ia bergerak di antara semuanya.

Mungkin karena itu saya mulai merasa bahwa percakapan kita tentang Rumah Koclak mempunyai risiko yang lucu sekaligus serius: jangan-jangan kita terlalu sibuk menjelaskan rumah sampai lupa duduk di ruang tamunya.

Saya datang dengan metamodernisme. Arip datang dengan kecurigaan. Wahyu datang dengan care. Setelah ini mungkin ada orang lain datang membawa istilah baru. Ada yang membawa Bourdieu. Ada yang membawa Deleuze. Ada yang membawa ekologi sastra. Ada yang membawa feminisme materialis. Ada yang membawa antropologi ruang. Ada pula yang datang tanpa teori, hanya membawa gorengan. Semuanya boleh.

Tapi saya ingin bertanya: apakah Rumah Koclak masih terdengar di antara suara-suara kita?

Pertanyaan ini penting karena teori, seperti yang sudah saya katakan dalam “DAN”, bukan pencipta kenyataan. Ia hanya salah satu cara untuk melihat. Senter tidak membuat ruangan menjadi terang sebelum senter dinyalakan. Ia hanya membuat bagian tertentu dari ruangan terlihat. Karena itu, setelah Wahyu membawa senter lain bernama care, saya tidak ingin mematikannya. Saya hanya ingin memutar sedikit arah cahayanya.

Ke sudut lain. Ke tangan-tangan yang menyiapkan kursi. Ke orang yang membersihkan ruangan setelah acara. Ke anak yang mungkin besok tidak datang lagi. Ke orang yang datang terlambat karena harus bekerja. Ke orang yang belum punya buku. Ke orang yang sudah punya banyak buku tetapi mungkin sedang lelah. Ke orang yang tidak pernah naik panggung. Ke orang yang hanya duduk dan mendengarkan. Ke orang yang datang sekali lalu membawa ingatan itu bertahun-tahun.

Wahyu menulis bahwa Rumah Koclak bukan terutama menghasilkan karya, melainkan mereproduksi kondisi yang memungkinkan karya terus muncul. Saya kira kalimat ini sangat penting. Ia menggeser perhatian kita dari hasil ke kondisi yang memungkinkan hasil itu terjadi. Dari produk ke hubungan. Dari panggung ke ruang belakang panggung. Dari siapa yang tampil ke siapa yang membuat seseorang bisa tampil.

Tetapi lagi-lagi: tapi.

Kalau kita sudah menemukan care, jangan buru-buru merasa selesai. Sebab care sendiri dapat menjadi istilah yang terlalu nyaman. Ia bisa berubah menjadi papan nama baru. “Ini ruang care.” “Ini komunitas care.” “Ini praktik counter-temporality.” “Ini ekosistem yang memberi ruang bagi ketidakselesaian.” Setelah itu kita memotret papan namanya. Dan tiba-tiba Sang Suhu sendiri harus datang membawa sandal dan memperingatkan, “Jangan seasu itu!”

Mungkin di situlah “TAPI” saya ingin bekerja. Jika “DAN” adalah kata yang memungkinkan dua hal tinggal berdampingan, “TAPI” adalah kata yang mencegah keduanya buru-buru melebur menjadi satu. “DAN” berkata: Rumah Koclak dan metamodernisme bisa duduk bersama. “TAPI” berkata: jangan sampai karena sudah duduk bersama, kita menganggap keduanya sudah saling menjelaskan seluruhnya.

DAN membuka kemungkinan.

TAPI mengganggu kemungkinan itu.

DAN membuat kita bersedia mendengar.

TAPI membuat kita bertanya lagi.

Mungkin percakapan semacam inilah yang sedang kita lakukan. Deri menulis. Arip mengganggu. Wahyu memperluas gangguan. Lalu saya, sebagai Deri, mengganggu perluasan itu. Sesudah ini mungkin ada orang lain yang mengganggu lagi. Begitulah nasib sebuah tulisan yang terlalu banyak bicara tentang keriuhan pendapat: ia akhirnya ikut membuat keriuhan.

Dan di sinilah saya ingin kembali kepada dua anak yang berebut jeruk tadi.

Barangkali kita terlalu cepat memikirkan siapa yang mendapat jeruk. Kita membayangkan teori mana yang benar, pembacaan mana yang paling tepat, apakah Rumah Koclak metamodern, apakah ia counter-temporal, apakah ia ruang care, atau apakah-apakah lainnya lagi. Padahal mungkin pertanyaan yang lebih menarik adalah pertanyaan sederhana sang mediator: “Kamu sebenarnya menginginkan apa?”

Arip mungkin ingin Rumah Koclak tetap menjadi Rumah Koclak. Wahyu mungkin ingin kita melihat waktu yang bekerja di dalamnya. Saya ingin mempertahankan kemungkinan membaca pengalaman itu dengan metamodernisme tanpa menganggapnya sebagai stempel. Dan pembaca lain mungkin menginginkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Silakan.

Justru kalau kita sungguh-sungguh percaya pada rumah sebagai ruang percakapan, mungkin kita tidak boleh terlalu takut pada orang yang datang membawa pendapat lain. Bahkan, kalau tulisan ini sudah mulai membuat Anda ingin ikut berpendapat, silakan tulis apa pun. Silakan bantah saya. Silakan bantah Suhu. Silakan bantah Arip. Silakan bilang bahwa metamodernisme itu terlalu jauh, chrononormativity terlalu dekat, care terlalu manis, atau saya terlalu banyak menggunakan kata “tapi”. Silakan. Yang perlu dihindari adalah satu suara yang mengira dirinya sudah selesai.

Jadi, Suhu, saya setuju: jangan buru-buru menjadikan Rumah Koclak sebagai model. Jangan buru-buru memasang papan nama. Jangan buru-buru memaksa waktu untuk berjalan lurus. Jangan buru-buru meminta orang yang masih muda untuk matang.

Tapi jangan juga buru-buru menganggap care sebagai jawaban terakhir.

Sebab setelah “DAN” dan “TAPI”, mungkin masih ada kata lain. 

Atau mungkin cukup:

“Masuk dulu.”

“Duduk.”

“Ngopi.”

“Kalau mau menulis, tulis.”

Dan kalau setelah ini ada yang masih bertengkar tentang teori, waktu, rumah, sastra, care, metamodernisme, chrononormativity, dan segala macam istilah yang membuat jeruk tadi semakin manis atau kecut—ya sudah. Jeruknya kita peras saja. Kulitnya jangan dibuang. Siapa tahu masih ada tulisan berikutnya.

Singajaya, 27 September 2026

Baca juga tulisan lainnya di HumaNiniNora.

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *