Lima esai berikut lahir bukan sebagai lima tulisan yang berdiri sendiri. Ditulis oleh saya, Arip Senjaya, dan Wahyu Heriyadi.
Semua ini bermula dari sebuah kunjungan ke Rumah Koclak, lalu berkembang menjadi percakapan yang agak panjang tentang sastra, teori, komunitas, waktu, care, dan tentu saja tentang bagaimana sebuah rumah sebaiknya dibiarkan menjadi rumah.
Esai pertama, “Rumah Koclak dan Sastra Metamodern”, saya tulis setelah menghadiri Hajatan Sastra Rumah Koclak. Saya datang ke sana tanpa membawa istilah metamodernisme. Istilah itu baru saya temukan kemudian, dan saya pakai sebagai salah satu kemungkinan untuk membaca pengalaman yang saya lihat.
Yang pertama-tama saya lihat justru bukan teori, melainkan sebuah ekosistem:
“Di dalam ekosistem, yang sudah tumbuh kuat hidup berdampingan dengan yang baru tumbuh. Yang serius bertemu yang jenaka, yang terlatih bersisian dengan yang masih mencari bentuk.”
Lalu datang Arip Senjaya melalui esainya, “Mak Comblang dan Rumah Koclak”. Ia seperti membawa sandal untuk menendang teori yang saya bawa pulang dari Ciamis. Keberatannya sederhana tetapi mengganggu: mengapa pengalaman yang sudah hidup harus buru-buru diberi papan nama teori?
Ia menulis:
“Meminta penulis muda matang sebelum memperoleh ruang sama dengan memarahi mangga muda karena belum manis.”
Lalu, setelah itu:
“Kang Deri. Makan dulu. Teorinya nanti.”
Saya menjawab Arip melalui esai “DAN”. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya tidak pernah bermaksud mengatakan Rumah Koclak adalah sastra metamodern. Ada kata kecil dalam judul yang bagi saya penting: dan. Saya tidak ingin menyamakan dua hal, melainkan mempertemukannya.
Saya menulis:
“Bagi saya, di situlah bedanya papan nama dan tafsir. Papan nama dipasang supaya orang tidak salah alamat. Tafsir hanya mengajukan kemungkinan.”
Tetapi percakapan itu belum selesai.
Wahyu Heriyadi kemudian datang dengan “Rumah Koclak, Care, dan Waktu yang Tidak Mau Disiplin”. Ia tidak lagi terutama bertanya apakah Rumah Koclak metamodern atau tidak. Ia membawa kita kepada pertanyaan tentang waktu: siapa yang menentukan kapan seseorang dianggap penulis, kapan karya dianggap matang, kapan seorang anak muda dianggap layak tampil, dan siapa yang mempunyai hak untuk berjalan lambat.
Ia menulis:
“Dalam waktu siapa rumah itu dibangun?”
Lalu pertanyaan itu didorong lebih jauh:
“Siapa yang diberi kesempatan untuk tidak selesai di dalam rumah itu?”
Dari sini percakapan berubah. Rumah Koclak tidak lagi hanya dilihat sebagai tempat berlangsungnya acara sastra, tetapi sebagai ruang yang memungkinkan orang bertumbuh. Bukan hanya melalui produksi karya, melainkan melalui kondisi yang memungkinkan karya terus muncul.
Wahyu menulis:
“Kemampuan untuk lambat adalah sebuah kemewahan.”
Kalimat itu kemudian membawa saya kepada esai kelima, “TAPI”.
Kalau “DAN” berusaha mempertemukan dua hal, “TAPI” ingin memberi jarak lagi. Bukan untuk membatalkan care, melainkan untuk bertanya: kalau care memberi seseorang waktu untuk tumbuh, siapa yang menyediakan waktu itu? Siapa yang merawat mereka yang merawat? Dan kalau kita sudah menemukan sebuah istilah yang terasa tepat, bukankah kita tetap perlu berhati-hati agar istilah itu tidak berubah menjadi papan nama baru?
Maka saya menulis:
“Kalau kita sudah menemukan care, jangan buru-buru merasa selesai.”
Lalu percakapan itu kembali kepada rumah.
Karena mungkin persoalan akhirnya bukan apakah Rumah Koclak itu metamodern, counter-temporal, ruang care, ekosistem, atau apa pun istilah yang bisa kita bawa dari perpustakaan ke ruang tamu.
Mungkin pertanyaannya lebih sederhana.
Siapa yang membuka pintu?
Siapa yang menyediakan kursi?
Siapa yang diberi waktu untuk belum selesai?
Siapa yang datang hanya untuk duduk?
Siapa yang pulang membawa sesuatu yang belum bisa disebut karya?
Dan siapa yang masih tinggal ketika tepuk tangan sudah berhenti?
Pada masa yang menjadi latar Babad Kopi Parahyangan, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan. Ia merupakan salah satu komoditas paling berharga dalam perdagangan…
Ketika Satoshi Nakamoto memperkenalkan Bitcoin pada tahun 2008, ia tidak sedang menawarkan sebuah produk investasi. Ia menawarkan sebuah gagasan tentang bagaimana manusia…
Sebuah peta perjalanan melintasi aspal London Timur yang berjelaga, cangkir Styrofoam yang menolak mati, darah babi yang tumpah di tanah Papua, hingga…
Percakapan