Menulis Ulang Masa Silam, Menampar Wajah Sendiri
Strategi Interteks dalam Babad Kopi Parahyangan
Dalam kajian sastra, intertekstualitas merujuk pada hubungan sebuah teks dengan teks-teks lain yang mendahuluinya. Julia Kristeva menyebut setiap teks sebagai mosaik kutipan, yakni ruang tempat berbagai suara, cerita, dan tradisi saling bertemu. Sebuah karya sastra tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia selalu berdialog dengan teks lain, baik melalui kutipan langsung, alusi, adaptasi, maupun penulisan ulang. Strategi inilah yang digunakan secara intensif oleh Evi Sri Rezeki dalam Babad Kopi Parahyangan. Novel ini tidak hanya memanfaatkan arsip sejarah kolonial, tetapi juga menghidupkan kembali karya sastra, mitologi, tradisi lisan, lagu anak-anak, mantra, dan ungkapan daerah. Berbagai teks tersebut tidak hadir sebagai “hiasan” intelektual belaka. Semuanya berfungsi membangun suasana zaman, memperkuat karakterisasi, memperkaya makna, serta menghubungkan pengalaman tokoh-tokohnya dengan sejarah dan kebudayaan yang lebih luas.
Bentuk intertekstualitas yang paling mudah dikenali adalah kutipan langsung dan alusi terhadap peristiwa sejarah. Di sepanjang novel, kita akan menemukan rujukan tentang Revolusi Prancis, Max Havelaar karya Multatuli, surat Philip Vitalis yang membicarakan Raden Moehamad Moesa dan Frederik Holle, berbagai data mengenai sistem perkebunan kopi di Priangan, struktur pemerintahan, dan data sejarah lainnya. Kutipan langsung tersebut menciptakan efek dokumenter yang meyakinkan. Dunia yang ditempati Karim, Euis, dan Satria terasa bukan sekadar dunia fiksi, melainkan bagian dari sejarah yang sungguh pernah terjadi. Melalui strategi ini, pengarang berhasil melebur jarak antara fakta dan imajinasi sehingga pembaca dapat merasakan kehidupan kolonial sebagai sesuatu yang konkret.
Namun intertekstualitas dalam novel ini tidak berhenti pada sejarah. Pengarang juga menghadirkan mitos Dayang Sumbi dan Sangkuriang, lagu permainan anak seperti Oray-orayan, mantra silek harimau, serta berbagai ungkapan Sunda dan Minangkabau. Jika interteks sejarah menciptakan kredibilitas, maka interteks budaya menciptakan suasana. Melalui lagu, mitos, mantra, dan bahasa daerah, pembaca tidak hanya mengetahui bahwa cerita berlangsung di Parahyangan abad ke-19, tetapi juga merasakan kehidupan masyarakatnya. Dunia novel menjadi hidup karena dilengkapi oleh cara berpikir, kepercayaan, dan kebiasaan yang benar-benar tumbuh dalam masyarakat tempat cerita itu berlangsung. Dengan demikian, intertekstualitas berfungsi sebagai sarana pelestarian memori budaya sekaligus alat untuk memperkaya tekstur narasi.
Jika sebagian besar interteks sejarah dan budaya berfungsi membangun latar, suasana, dan kredibilitas dunia cerita, hubungan dengan Max Havelaar bergerak lebih jauh. Intertekstualitas tidak lagi hadir sebagai kutipan atau alusi, melainkan berkembang menjadi penulisan ulang sebuah pola cerita yang telah dikenal dalam tradisi sastra kolonial. Jejaknya tidak hanya muncul pada tingkat gagasan, tetapi juga pada struktur peristiwa dan perkembangan tokohnya.
Dalam Max Havelaar, terdapat kisah Saijah dan Adinda yang kemudian menjadi salah satu bagian paling terkenal dalam sejarah sastra Indonesia. Saijah adalah anak petani miskin di Lebak yang hidupnya berubah setelah kerbau milik keluarganya dirampas oleh pejabat setempat. Kerbau tersebut merupakan alat utama untuk mengolah sawah dan menopang kehidupan keluarga. Perampasan itu membuat keluarga Saijah jatuh semakin miskin. Ibunya meninggal, ayahnya dipenjara, dan kehidupannya hancur perlahan. Kisah cintanya dengan Adinda akhirnya berakhir tragis di tengah kekerasan kolonial. Dalam cerita tersebut, kerbau tidak hanya berfungsi sebagai harta benda, melainkan simbol kehidupan, harga diri, dan masa depan keluarga petani.
Pola yang serupa muncul dalam Babad Kopi Parahyangan. Satria adalah anak petani yang menjalin hubungan dengan Euis, putri Mantri Darma. Hubungan tersebut tidak direstui karena keluarga sekelas mantri di kampung jauh lebih terpandang kelas sosialnya dibanding petani numpang. Ketika berbagai peringatan tidak berhasil memisahkan keduanya, Mantri Darma dalam satu kesempatan mengambil paksa kerbau milik keluarga Satria untuk dijadikan sumbangan/pupundutan kepada keluarga bupati yang akan menikahkan Raden Arya–patih yang berada satu tingka di bawah bupati. Peristiwa itu menjadi titik balik kehidupan Satria. Orang tuanya meninggal, masa depannya suram, dan perlahan ia berubah menjadi sosok yang keras serta penuh dendam. Kemiripan antara kedua cerita terlalu kuat untuk dianggap kebetulan. Dalam kedua novel, kerbau menjadi simbol yang sama: penopang kehidupan rakyat kecil yang dirampas oleh mereka yang memiliki kekuasaan.
Namun kesamaan itu justru digunakan pengarang untuk menghasilkan makna yang berbeda. Dalam Max Havelaar, penderitaan tidak mengubah Saijah menjadi penjahat. Ia tetap tampil sebagai korban kolonialisme yang mempertahankan martabatnya. Kemarahannya diarahkan kepada kekuasaan yang menindas. Bahkan ketika kisahnya berakhir tragis, Saijah sering dibaca sebagai sosok yang mendekati figur pahlawan atau martir. Sekalipun tindakannya menerjang maut secara literal bukan hasil akumulasi kesadaran politik, tetapi karena merasa patah hati begitu mengetahui kekasihnya telah perlaya.
Satria menempuh jalan yang lain. Ia juga korban ketidakadilan. Ia juga kehilangan keluarga akibat kesewenang-wenangan orang yang lebih berkuasa. Namun pengalaman tersebut sama sekali tidak melahirkan tindakan yang mendekati kepahlawanan. Sebaliknya, ia berubah menjadi pribadi yang keras, bengis, dan kemudian menindas orang lain. Jika Saijah tetap berada di pihak korban, maka Satria bergerak ke wilayah yang lebih rumit: korban yang perlahan berubah menjadi pelaku. Di sinilah Babad Kopi Parahyangan seperti mengajukan pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh Max Havelaar: apa yang terjadi ketika luka sosial tidak pernah memperoleh keadilan? Apa yang terjadi ketika korban tidak memiliki siapa pun yang membela, melindungi, atau memulihkan hidupnya? Ketika pikirannya sendiri tidak cukup menanggungkannya?
Jawaban yang diberikan novel bukanlah pembenaran terhadap tindakan Satria, melainkan penjelasan mengenai asal-usulnya. Satria tidak dilahirkan sebagai manusia yang jahat dan kejam. Ia juga tidak bercita-cita menjadi penjilat kekuasaan kolonial. Ia menjadi demikian kejam setelah mengalami rangkaian kehilangan yang tidak pernah menemukan penyelesaian. Tidak ada lembaga yang membelanya. Tidak ada tokoh yang memulihkan martabat keluarganya. Tidak ada ruang yang memungkinkan kemarahannya berubah menjadi perlawanan yang konstruktif. Karena itu, kemarahan yang semula lahir dari ketidakadilan akhirnya berkembang menjadi dendam yang merusak dirinya sendiri dan orang-orang di sekitar dan terdekat.
Lebih jauh lagi, perubahan Satria memperlihatkan bentuk ketidaksadaran sosial yang menarik untuk dicermati. Ia mengetahui bahwa dirinya menjadi korban ketidakadilan, tetapi gagal memahami sumber ketidakadilan tersebut secara utuh. Akibatnya, kemarahannya tidak diarahkan kepada struktur yang melahirkan penderitaannya, melainkan kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Dendam bergerak secara pribadi, bukan politis. Dalam konteks ini, Satria dapat dibaca sebagai sosok yang gagal mencapai kesadaran kelas. Ia menyadari luka yang dialaminya, tetapi tidak menyadari sistem yang menciptakan luka tersebut.
Tragedi Satria bukan hanya kehilangan keluarga atau kehilangan masa depan. Tragedinya adalah salah mengenali musuh. Ia melihat wajah-wajah yang menyakitinya, tetapi tidak melihat struktur sosial yang memungkinkan penindasan itu terus berlangsung. Karena itu, kemarahannya bergerak secara horizontal, bukan vertikal. Ia menyerang orang-orang yang berada di dekatnya, bukan sistem yang melahirkan ketidakadilan tersebut. Akibatnya, kekerasan yang pernah menimpanya tidak berubah menjadi perlawanan terhadap ketimpangan sosial, melainkan menjadi kekerasan baru yang menimpa orang lain. Dalam pengertian ini, Satria bukan sekadar korban kolonialisme, melainkan juga korban dari ketidaksadarannya sendiri terhadap posisi sosial yang ia tempati.
Di sinilah hubungan intertekstual dengan Max Havelaar memperoleh maknanya. Jika Saijah dapat dibaca seolah-olah korban yang tetap mampu mengarahkan kemarahannya kepada sumber penindasan yang sebenarnya, maka Satria memperlihatkan kemungkinan lain yang lebih tragis. Ia gagal memahami siapa musuhnya. Penindasan yang dialaminya tidak melahirkan kesadaran, melainkan kebencian. Ia tidak menjadi pahlawan yang melawan ketidakadilan sebagaimana makna harfiah dari namanya “satria”, tetapi justru menjadi bagian dari rantai kekerasan yang lahir dari ketidakadilan itu sendiri. Dengan cara ini, Babad Kopi Parahyangan tidak hanya menulis ulang kisah Saijah dan Adinda, tetapi juga mengajukan kritik terhadap anggapan bahwa penderitaan secara otomatis akan melahirkan kesadaran sosial.
Dengan demikian, strategi intertekstual dalam Babad Kopi Parahyangan memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghadirkan referensi sejarah dan budaya. Intertekstualitas digunakan untuk membangun dunia kolonial yang meyakinkan, menghidupkan kebudayaan lokal, serta membuka dialog dengan teks-teks yang telah lebih dahulu membentuk ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Melalui penulisan ulang kisah yang mengingatkan pembaca pada Saijah dan Adinda, Evi Sri Rezeki tidak sekadar mengulang cerita lama, tetapi menafsirkannya kembali dari sudut pandang yang berbeda.
Jika Multatuli menunjukkan bagaimana kolonialisme menghancurkan manusia, maka Babad Kopi Parahyangan melangkah lebih jauh dengan mempertanyakan apa yang terjadi setelah kehancuran itu. Jawaban yang ditawarkan tidak selalu heroik, tidak selalu mulia, dan tidak selalu memberi harapan. Dan karena itulah ia terasa lebih dekat dengan kenyataan manusia yang sesungguhnya. Luka sosial tidak selalu melahirkan pahlawan. Dalam banyak kasus, luka itu justru melahirkan manusia-manusia yang tersesat, salah mengenali musuhnya, lalu tanpa sadar mengulangi kekerasan yang pernah mereka alami, dan merusak kelas sosialnya sendiri.
Dalam menelusuri karakter Satria, kita juga dapat menemukan alasan tentang mengapa kesadaran kelas, apalagi perjuangan kelas, demikian sulit dilakukan. Melalui strategi intertekstual yang menulis ulang kisah Saijah menjadi kisah Satria, Evi Sri Rezeki memperlihatkan bagaimana seorang korban dapat gagal memahami sumber penindasannya sendiri. Oleh karena itu, revolusi sosial tidak terjadi dalam Babad Kopi Parahyangan—novel pertama dari tetralogi yang direncanakannya. Penindasan hadir, tetapi tidak berkembang menjadi kesadaran kolektif yang mengikat solidaritas kelas bawah untuk melawan sistem kolonial yang dijalankan kelas atas. Ia justru lebih sering berubah menjadi dendam pribadi dan reproduksi kekerasan di dalam kelas bawah itu sendiri.
Singajaya, September 2026.


Post Comment